Dalam sebuah pertemuan majelis taklim, saya tergelitik oleh pertanyaan salah seorang anggota. Ia berharap majelis taklim tidak hanya berisi penyampaian agama secara normatif, tetapi juga memberikan keterampilan komunikasi yang dapat dipraktikkan dalam keluarga. Menurutnya, banyak pendakwah saat ini sudah berusia lanjut dan lebih sering menyampaikan nasihat-nasihat keagamaan yang disebutnya "dakwah normatif."
Hmmm. Mungkin dia sudah berkali-kali mendengar nasihat bahwa suami istri harus saling menyayangi, bersabar, menjaga prasangka, dan menyelesaikan persoalan dengan baik. Namun, ketika konflik benar-benar datang, pertanyaannya menjadi lain: bagaimana cara bersabar? Bagaimana tetap berempati setelah berkali-kali kecewa? Bagaimana memberanikan diri membuka percakapan yang selama ini selalu dihindari?
Namun, karena tanda tanya itu, saya jadi kepikiran: benarkah ajaran agama yang normatif tidak mengajarkan keterampilan? Atau jangan-jangan, keterampilan itu sebenarnya sudah ada di dalamnya, tetapi belum selalu kita kenali?
Bayangkan sebuah percakapan pada suatu malam.
Seorang istri mencoba mengajak suaminya bicara.
“Kita perlu membahas keuangan rumah tangga.”
Belum juga percakapan dimulai, sang suami langsung menjawab, “Kamu pasti mau menyalahkan aku lagi.”
Istrinya menarik napas. “Sudahlah. Percuma bicara. Kamu tidak akan pernah berubah.”
Keduanya kemudian diam.
Bukan karena persoalannya selesai. Justru karena ada begitu banyak hal yang tidak jadi disampaikan. Sang suami takut disalahkan. Sang istri sudah kehilangan harapan. Percakapan berhenti sebelum keduanya benar-benar saling mendengarkan.
Begitulah komunikasi dalam keluarga sering tersendat. Bukan selalu karena pasangan tidak memiliki jalan keluar, melainkan karena ada “virus” yang lebih dahulu menguasai percakapan.
Dalam materi pembinaan relasi keluarga, Kemenag RI, tiga suara batin dalam Theory U dikenalkan sebagai virus komunikasi yaitu suara menghakimi, suara sinis, dan suara takut. Ketiganya menghambat pasangan untuk bergerak dari perdebatan menuju dialog reflektif dan dialog solusi.
Pertama Suara Menghakimi, Penawarnya Membuka Pikiran
Virus pertama adalah suara menghakimi atau voice of judgment.
Suara ini membuat kita terlalu cepat mengambil kesimpulan.
“Kamu memang selalu begitu.”
“Kamu tidak pernah peduli.”
“Kamu pasti sengaja melakukannya.”
Pasangan belum selesai menjelaskan, tetapi kita sudah merasa tahu apa yang dipikirkan, dirasakan, bahkan diniatkannya. Kita tidak lagi mendengarkan untuk memahami. Kita hanya mencari bagian-bagian yang membenarkan penilaian kita sendiri.
Penawarnya adalah open mind, membuka pikiran. Dalam Theory U, membuka pikiran berarti menangguhkan kebiasaan menghakimi berdasarkan pengalaman dan penilaian lama, lalu membuka ruang untuk melihat fakta yang mungkin berbeda dari dugaan kita.
Membuka pikiran tidak berarti kita harus selalu setuju. Kita hanya perlu menahan kesimpulan, mendengarkan sampai selesai, dan memberi kesempatan kepada kenyataan untuk berbicara.
Kedua Suara Sinis, Penawarnya Membuka Hati
Virus kedua adalah suara sinis atau voice of cynicism.
Suara ini biasanya muncul setelah seseorang berkali-kali merasa kecewa.
“Percuma dibicarakan.”
“Dia tidak akan pernah berubah.”
“Buat apa mencoba lagi?”
Sinisme perlahan menutup hati. Kita tidak lagi memandang pasangan sebagai seseorang yang masih dapat belajar dan bertumbuh. Kita berhenti mencoba memahami karena sejak awal sudah yakin tidak ada lagi yang dapat diharapkan.
Penawarnya adalah open heart, membuka hati.
Membuka hati bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan pasangan. Membuka hati berarti tetap menyediakan ruang bagi empati dan kasih sayang. Kita mencoba melihat persoalan dari sudut pandangnya: apa yang sedang ia rasakan, apa yang ia takutkan, dan apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Theory U menjelaskan bahwa hati yang terbuka memungkinkan seseorang terhubung dengan pengalaman orang lain dari dalam, bukan sekadar mengetahui secara logis, tetapi berusaha melihat dunia melalui mata orang lain.
Ketiga Suara Takut, Penawarnya Membuka Tekad
Virus ketiga adalah suara takut atau voice of fear.
Takut berbicara jujur. Takut disalahkan. Takut meminta maaf. Takut mengakui kesalahan. Takut mencoba cara baru. Bahkan takut meminta pertolongan karena khawatir dianggap tidak mampu menjaga rumah tangga.
Rasa takut membuat pasangan terus mengulang pola lama, meskipun keduanya sama-sama mengetahui bahwa pola tersebut tidak menyelesaikan masalah.
Penawarnya adalah open will, membuka kemauan.
Artinya, berani melepaskan cara lama dan mengambil langkah baru. Setelah mampu mendengarkan dan memahami, pasangan tidak berhenti pada perasaan saling mengerti. Keduanya bergerak untuk bekerja sama mencari jalan keluar.
Karena itu, tiga virus komunikasi bukan sekadar persoalan pilihan kata. Ketiganya menentukan ke mana sebuah percakapan akan bergerak: berhenti pada saling menilai, berkembang menjadi saling memahami, atau dilanjutkan dengan keberanian menemukan solusi bersama.
Ketika Ajaran Normatif Dibaca sebagai Keterampilan
Sampai di sini, Theory U terdengar sangat praktis. Ada virus yang dapat dikenali, ada penawarnya, lalu ada keterampilan yang bisa dilatih.
Namun, ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibaca lebih dalam melalui penjelasan para mufasir, keterampilan serupa sebenarnya telah lama diajarkan. Hanya saja, kita sering menangkapnya sebatas nasihat tentang apa yang baik, belum sampai pada cara mempraktikkannya.
Pertama Tabayyun, Tuntunan untuk Belajar Menahan Penghakiman
Ketika pikiran mudah menghakimi, Al-Qur’an mengajarkan tabayyun dalam Surah Al-Hujurat ayat 6.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan ayat ini sebagai peringatan agar orang beriman tidak terburu-buru mempercayai sebuah berita dan mengambil sikap sebelum menyelidiki kebenarannya. Sebab, keputusan yang lahir dari kabar yang belum jelas dapat merugikan orang lain dan berakhir dengan penyesalan. Dengan kata lain, tabayyun menuntut ketelitian, kehati-hatian, dan kemampuan mengendalikan dorongan untuk segera bereaksi.
Dalam hubungan keluarga, tabayyun bukan konsep yang abstrak. Ia berarti berhenti sejenak sebelum menuduh. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Membedakan antara fakta, perasaan, dan dugaan.
Kalimat, “Kamu pasti sengaja mengabaikanku,” dapat diubah menjadi, “Aku merasa diabaikan. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Itulah keterampilan membuka pikiran: kita tidak harus langsung menyetujui pasangan, tetapi bersedia mendengarkan sebelum menjatuhkan penilaian.
Kedua Rahmah, Tuntunan untuk Menjaga Hati Tetap Terbuka
Ketika hati mulai tertutup oleh sinisme, Islam mengajarkan rahmah.
Dalam menafsirkan Surah Ali ‘Imran ayat 159, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kelembutan Rasulullah merupakan buah rahmat Allah. Ayat itu juga menunjukkan bahwa sikap keras dan hati yang kasar membuat orang menjauh. Karena itu, setelah terjadi kesalahan, urutan yang diajarkan bukan penghukuman dan penghinaan, melainkan memaafkan, memohonkan ampun, lalu mengajak bermusyawarah.
Jadi, rahmah bukan sekadar rasa sayang yang tersimpan dalam hati. Rahmah terlihat dalam cara seseorang menghadapi kesalahan: tetap lembut, tidak merendahkan, memberi kesempatan untuk menjelaskan, dan mengajak mencari jalan keluar bersama.
Surah Ar-Rum ayat 21 juga menempatkan mawaddah dan rahmah di antara pasangan. Dalam penafsiran yang dinukil dari Ibnu Abbas, mawaddah dipahami sebagai cinta kepada pasangan, sedangkan rahmah tampak dalam kepedulian yang membuat seseorang tidak ingin pasangannya tertimpa keburukan.
Maka, membuka hati bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Membuka hati berarti tetap melihat pasangan sebagai manusia yang perlu dipahami, dijaga martabatnya, dan masih memiliki kemungkinan untuk bertumbuh.
Ketiga Azam dan Tawakal, Tuntunan untuk Berani Bergerak Meskipun Takut
Ketika rasa takut membuat seseorang tidak berani berbicara atau berubah, Surah Ali ‘Imran ayat 159 mengajarkan azam dan tawakal: setelah bermusyawarah dan membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.
Buya Hamka menjelaskan bahwa tawakal bukanlah menyerah tanpa usaha. Tawakal dilakukan setelah ikhtiar dan kerja keras. Ia memuat kebulatan hati, keberanian untuk tidak terus dikuasai keraguan, serta kesiapan menghadapi risiko dari keputusan yang telah diambil. Ketika seseorang benar-benar bersandar kepada Allah, ia memperoleh keteguhan untuk menjalankan tugasnya dan tidak terus dikendalikan oleh kecemasan.
Dalam kehidupan keluarga, keterampilan ini sangat konkret. Berani mengakui kesalahan. Berani membuka percakapan yang selama ini dihindari. Berani mengubah kebiasaan. Berani meminta pertolongan ketika persoalan tidak mampu diselesaikan berdua.
Tawakal tidak berarti menunggu hubungan membaik dengan sendirinya. Ada musyawarah yang dijalankan, keputusan yang diambil, dan ikhtiar yang benar-benar dilakukan. Hasil akhirnya barulah diserahkan kepada Allah.
Bukan Sekadar Mengetahui yang Baik
Ajaran agama sebenarnya tidak hanya mengatakan apa yang seharusnya dilakukan. Di dalamnya juga terdapat keterampilan tentang bagaimana melakukannya.
Tabayyun melatih kita menahan penghakiman dan memeriksa kenyataan. Rahmah melatih kita menghadapi kesalahan tanpa kehilangan empati dan kelembutan. Musyawarah, azam, ikhtiar, dan tawakal melatih kita mengambil langkah meskipun ada rasa takut.
Theory U menyebutnya open mind, open heart, dan open will. Bahasa dan sumbernya tentu berbeda. Namun, perjumpaan keduanya membantu kita melihat bahwa ajaran yang kerap dianggap hanya normatif ternyata memuat keterampilan berpikir, merasakan, berkomunikasi, dan bertindak.
Persoalannya mungkin bukan karena agama tidak mengajarkan keterampilan. Persoalannya, nilai-nilai itu belum selalu dijelaskan, dicontohkan, dan dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, ketika suara menghakimi muncul, lakukan tabayyun. Ketika suara sinisme mulai menutup hati, hadirkan rahmah. Ketika suara ketakutan menghentikan langkah baik, bermusyawarahlah, bulatkan tekad, berikhtiar, lalu bertawakal.